Breaking News

Tangani Pasien Tanpa APD, IDI Aceh Jaya: Tenaga Kesehatan Jalani "Misi Bunuh Diri"

Tangani Pasien Tanpa APD, IDI Aceh Jaya: Tenaga Kesehatan Jalani "Misi Bunuh Diri"

CALANG, METROPOLIS.id | Stok Alat Perlindungan Diri (APD) di rumah sakit di berbagai daerah di Indonesia mulai menipis akibat pandemi COVID-19.

Pada akhirnya, banyak fasilitas kesehatan dan tenaga medis yang mengakali kelangkaan dengan menggunakan barang yang tidak sesuai standar.

Kondisi ini pula yang kini tengah dialami oleh tenaga kesehatan di Kabupaten Aceh Jaya. Dengan tidak lengkapnya atau tidak terstandarnya alat perlindungan diri, mereka dihadapkan dengan kondisi harus merawat orang dalam pemantauan (ODP).

"Kita tidak bisa bekerja tanpa APD, karena jika kita memaksakan untuk tetap melayani tanpa adanya perlindungan diri maka itu sama saja bunuh diri. Apalagi lingkungan kerja dokter di Aceh Jaya sudah ada yang ditetapkan sebagai ODP," kata dr. Baihaqi, ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Aceh Jaya.

Saat ini, kata Dr Baihaqi, sudah banyak dokter atau tenaga keaehatan yang mengeluh tidak tersedianya APD. Sehingga membuat mereka terhambat dalam memberikan pelayanan.

Namun, kata dr. Baihaqi hingga kini Pemda Aceh Jaya melalui Dinas Kesehatan belum ada tanda-tanda akan menyalurkan APD ke fasilitas kesehatan. Hal ini sangat membuat para dokter yang berada di garda terdepan sangat khawatir akan keselamatannya.

"Coba anda bayangkan, petugas medis adalah orang yang sangat beresiko, karena mereka setiap hari berhadapan dengan pasien yang kita tidak tahu apakah pasien tersebut sudah terinfeksi covid-19 atau belum. Bila semua petugas medis tumbang, bagaimana kita bisa menghadapi wabah ini kedepannya? ujar dr. Baihaqi.

Saat ini, kata dia, jumlah dokter Indonesia yang gugur dalam pengabdian sudah berjumlah 7 orang. Selain di Indonesia, jumlah dokter yang gugur dalam pengabdian dalam menangani wabah covid-19 berjumlah 9 orang di Filipina, 23 orang di Itali, dan di negara-negara lainnya.

"Kami tidak ingin jumlah dokter yang meninggal karena wabah covid-19 bertambah, maka itu saya instruksikan kepada semua anggota IDI Cabang Aceh Jaya untuk tidak melakukan pelayanan bila APD tidak ada atau tidak memadai," tegas dr. Baihaqi.

Selain itu, dr. Baihaqi juga meminta agar Pemda memperhatikan beban kerja tenaga dokter agar tidak melebihi 8 jam kerja perhari.

"Bila kerja lebih dari 8 jam tidak dapat dihindari, diharapkan untuk memberikan jadwal istirahat yang cukup agar dokter dapat mengembalikan kebugarannya," harapnya.

Terpisah, juru bicara gugus tugas percepatan penanganan covid 19 Aceh Jaya, Ns Idham Chalik, S.Kep, MKM, mengatakan, ketersediaan APD di puskesmas dalam lingkup Aceh Jaya menjadi prioritas pihaknya.

"Kita selalu memprioritaskan pada petugas kesehatan, tidak hanya dokter tetapi juga kepada seluruh petugas yang berhadapan langsung dengan pasien," katanya.

"Hari ini kita bisa buktikan, setiap kita ke Puskemas melihat hampir seluruh petugas menggunakan masker maupun sarung tangan dan juga mencuci tangan pakai hand scrup atau hand sanitizer," tambahnya.

Namun demikian, Ia mengakui stok baju APD di Dinkes sangat sedikit, sehingga hanya digunakan khusus pada petugas yang menangani Covid 19.

"Untuk penanganan Covid 19 ini, petugas yang berhubungan dengan ODP/PDP wajib menggunakan APD lengkap. Kita sudah memesan baju ke distributor tetapi sampai saat ini belum tersedia. Hal ini juga dialami oleh RSU Teuku Umar yang ketersediaan APD lengkap khususnya baju sangat kurang. Kami sudah meminta bantu pada Dinas Kesehatan Aceh, tetapi disana juga sangat minim sehingga di bantu hanya 6 set untuk RSU Teuku Umar," katanya.

Rubrik:Aceh Jaya
PT SBA