Melihat Kondisi Rumah Warga di Bantaran Sungai Aceh Tamiang

Menunggu Hanyut Akibat Erosi

Menunggu Hanyut Akibat Erosi
Rumah beberapa warga di Desa Perkebunan Pulau Tiga, Kecamatan Tamiang Hulu, yang berada di tebing sungai nyaris ambruk.(METROPOLIS.ID/ZULFITRA)

metropolis.id Ancaman bencana tengah mengintai keselamatan jiwa warga yang tinggal di hulu hingga hilir daerah aliran sungai (DAS) Aceh Tamiang.

Pasalnya, bagian sisi kiri dan kanan tebing di sepanjang bantaran sungai Tamiang itu mulai terlihat banyak yang runtuh dan jatuh ke dalam sungai akibat tergerus erosi. 

Tebing-tebing sungai itu tidak lagi mampu membendung dan menahan belaian arus air yang berproses secara alami terus menerus menghantam dinding tebing.

Tak ayal, dampak dari proses alam tersebut menjadi ancaman tersendiri bagi keselamatan jiwa sebagian warga di Kabupaten Aceh Tamiang, khususnya mereka yang hidup dan bertempat tinggal di bantaran sungai.

Pantauan metropolis.id, saat ini terdapat puluhan kepala keluarga (KK) yang tinggal di sepanjang DAS Tamiang, atau bantaran. Mulai dari beberapa kecamatan di wilayah hulu Kabupaten Aceh Tamiang, hingga beberapa kecamatan di wilayah hilir kabupaten tersebut terancam kehilangan tempat tinggal. Hanya tinggal menunggu waktu bencana itu datang menerpa mereka saja.

Penelusuran metropolis.id di sepanjang sungai Tamiang mulai dari wilayah hulu dan hilir, terdapat beberapa titik rawan terjadinya erosi. Adapun beberapa kecamatan di wilayah hulu itu yakni di Kecamatan Tamiang Hulu, Kejuruan Muda, dan Kota Kuala Simpang. Sedangkan wilayah hilir, Kecamatan Rantau, Seruway, dan Bendahara. 

Warga di sana terancam hilang tempat tinggal atau rumah yang sewaktu-waktu amblas dan masuk ke dalam sungai. 

Seperti rumah salah satu warga Dusun Tualang, Desa Sungai Liput, Kecamatan Kejuruan Muda, M Zaini, (32). Kondisinya sangat miris dan terancam ambruk akibat pengikisan tebing sungai. 

Saat metropolis.id menyambangi kediaman M Zaini, beberapa waktu lalu, Selasa, 27 April 2021, longsor sungai sudah mencapai ujung bangunan dapur rumahnya. Bahkan, kamar mandi miliknya sudah ambruk lebih dahulu ke sungai empat bulan lalu.

Sudah barang tentu, kondisi tersebut membuat resah dirinya dan keluarga, yang sewaktu-waktu bisa saja kehilangan tempat tinggal mereka. Apalagi, letak rumahnya berada tepat di ujung tikungan aliran sungai. 

Menurutnya, ujung tebing di tikungan sungai merupakan tumpuan aliran air yang mengalir dari atas. Sehingga tendang atau gerusan air akan terjadi lebih besar yang menyebabkan pengikisan terjadi semakin cepat. 

"Kalau sudah musim hujan, saya dan istri sudah mulai was-was. Tidur pun tidak nyenyak. Khawatir jika tiba-tiba rumahnya amblas ke dalam sungai," ujarnya saat bincang-bincang dengan metropolis.id.

Tidak hanya rumah milik M Zaini, ada beberapa rumah warga lainnya yang kondisinya sama. Bahkan, pantauan metropolis.id, jarak beberapa meter dari rumah M Zaini, pengikisan tebing sungai juga terjadi dan nyaris memutus badan jalan utama lintas provinsi Sumatera Utara - Aceh.

Rubrik: