Breaking News

Polda Aceh Tangkap Penyebar Isu SARA dan Ujaran Kebencian di Medsos

Polda Aceh Tangkap Penyebar Isu SARA dan Ujaran Kebencian di Medsos

BANDA ACEH, METROPOLIS.id | YIR (55) dan RD (55), warga Aceh Utara terpaksa berurusan dengan polisi lantaran melakukan ujaran kebencian dan isu SARA di media sosial.

Keduanya dituduh melanggar Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik atas unggahan menyebar kebencian dan teror dengan mengusir warga non pribumi dari Aceh.

Kabid Humas  Polda Aceh Kombes Pol  Ery Apriyono mengatakan, YIR dan RD ditangkap tim gabungan KKB Polda Aceh pada Kamis (7/11/2019) di Gampong Cot Raboh Baroh, Kecamatan Peusangan, Bireuen sekira pukul 10.25 WIB.

"Untuk sementara pelaku yang kita tangkap baru kedua orang ini. Motif dan misi mereka menyebarkan video tersebut juga masih kita dalami saat ini," kara Ery kepada wartawan dalam konferensi pers, Kamis (7/11/2019).

Ery mengatakan, pelaku dengan sengaja  menyebarkan video-video ujaran kebencian dan SARA untuk memperoleh perhatian seluruh masyarakat.

Para pelaku memposting video pertama kali pada bulan Agustus. Mereka memposting video menembakkan senjata api ke udara sebanyak 3 kali.  Berikutnya mereka memposting kembali di akun Facebooknya sekitar bulan September tentang seruan meminta untuk orang non pribumi agar meninggalkan Aceh.

“Video pertama kali diposting di Aceh Utara dan video kedua di Bireuen," ujarnya.

Dari pelaku, kata Ery, polisi menyita sepucuk senjata api laras pendek rakitan, enam butir peluru, buku tabungan, satu buah pasport, ATM,  KTP pelaku,  empat buah HP, dan 6 lembar bendera.

“Kita juga mengamankan 1 buah akun facebook pelaku yang digunakan untuk memposting video tersebut dan 4 lembar screenshot postingan para pelaku,” kata Ery.

Kedua pelaku, kata Ery, dijerat dengan pasal 45A ayat 2 Jo pasal 28 ayat 2 sesuai dengan UU RI No 19/2016 Tentang Perubahan No 8/2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik dengan ancaman penjara maksimal 6 tahun, dan pasal 1 ayat 1 Undang Undang Darurat Nomor 12 Tahun 1951 dengan hukuman mati atau maksimal 20 tahun penjara.

"Mereka tidak ada kaitannya dengan kelompok bersenjata yang ada di Pidie, mereka kelompok sendiri. Untuk anggota yang ada di dalam video atau lainnya kita imbau untuk segera menyerahkan diri ke kantor polisi terdekat ataupun menyerahkan diri kepada tokoh masyarakat di gampongnya agar diantarkan ke Polda, karena semua identitas mereka sudah di kantongi,” katanya.

Terkait dengan postingan tersebut, kata Ery, sejauh ini tidak ada orang Aceh yang terprovokasi dengan ajakan kelompok tersebut.

“Jadi untuk masyarakat pendatang ataupun saudaranya yang di luar tidak perlu khawatir, karena masyarakat Aceh tidak terpengaruh dan pihak keamanan juga terus menindak tegas hal tersebut," kata Ery.

Rubrik: