Menjemput Berkah Ramadhan, IGI Aceh Tamiang Santuni Anak Yatim 

Menjemput Berkah Ramadhan, IGI Aceh Tamiang Santuni Anak Yatim 

metropolis.id Ikatan Guru Indonesia (IGI) Kabupaten Aceh Tamiang melaksanakan kegiatan sosial berupa pemberian santunan terhadap anak yatim dan yatim piatu. 

Pemberian santunan berlangsung secara sederhana tersebut diberikan tepat disaat memasuki hari ke 26 bulan suci Ramadhan, bertempat di gedung Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 1 Manyak Payed. 

Ketua IGI Aceh Tamiang, Hadi Firmansyah mengatakan, ada 35 anak yatim dan piatu yang menerima bingkisan dari keluarga besar IGI Aceh Tamiang, berupa perlengkapan ibadah dan uang saku. 

"Sebagian adalah anak yang orang tuanya adalah guru semasa masih hidup, sebagian yatim dari masyarakat biasa, serta fakir dan miskin," kata Hadi Firmansyah kepada metropolis.id di sela-sela kegiatan, Sabtu, (8/5/2021).

Menurutnya, selain menjemput untuk mendapatkan keberkahan di bulan suci ramadan, Adi mengaku kegiatan itu juga merupakan salah satu bentuk kepedulian sekaligus penghormatan pihak IGI Aceh Tamiang terhadap orang tua mereka yang semasa hidupnya telah rela mendedikasikan dirinya di dunia pendidikan, khususnya di Kabupaten Aceh Tamiang. 

Sehingga, sudah menjadi sesuatu yang wajar jika IGI Aceh Tamiang saat ini memuliakan anak-anak mereka yang sekarang menyandang status yatim. Begitu juga halnya dengan yatim dari masyarakat biasa. 

Disisi lain, IGI Aceh Tamiang sendiri adalah organisasi profesi dengan beranggotakan orang-orang yang memiliki profesi sebagai pengajar atau guru. Dan dalam konsep dasarnya, ada empat kompetensi yang wajib dimiliki seorang pengajar atau guru, yakni Pedagogik, Kepribadian, Sosial, dan Profesional. 

"Jadi, kegiatan penyantunan anak yatim ini memiliki kaitan erat dengan kompetensi tersebut. Satu dari empat kompetensi yang wajib dimiliki guru, yakni kompetensi sosial," katanya. 

Seperti diketahui, kompetensi sosial sendiri merupakan kemampuan guru untuk dapat berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua atau wali peserta didik, dan masyarakat sekitar. 

Artinya, kata Hadi, guru juga memiliki tanggung jawab sosial serta loyalitas yang besar terhadap sesama manusia, termasuk terhadap para yatim yang tengah diberikan santunan saat ini. 

"Dari Empat kompetensi tersebut, kompetensi sosial ini yang sering terlupakan dalam penerapannya," katanya.  

Untuk itu, Hadi mengaku, IGI Aceh Tamiang akan terus mendorong seluruh anggota yang telah tergabung dalam organisasi tersebut agar menerapkan kesemua kompetensi itu. 

Lebih jauh, Hadi menyebutkan, pihaknya selama ini telah membentuk kelompok diskusi guru bidang studi yang sama. Hal itu dilakukan guna meningkatkan Kompetensi profesional guru. 

"Sehingga mereka dapat lebih menguasai materi pembelajaran secara luas dan mendalam, yang mencakup penguasaan materi kurikulum mata pelajaran di sekolah dan substansi keilmuan yang menaungi materinya, serta penguasaan terhadap struktur dan metodologi keilmuan yang dimiliki," ujarnya.

Tak hanya itu, saat ini guru dituntut agar dapat memahami karakter setiap peserta didik. Selanjutnya, guru juga dituntut mampu merancang perencanaan sebelum melaksanakan pembelajaran. Melakukan evaluasi hasil belajar, dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya. 

"Kemampuan itu yang disebut dengan Kompetensi Pedagogik," katanya. 

Terakhir, guru dituntut memiliki kemampuan personal yang mencerminkan kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif, berwibawa, dan dapat menjadi teladan bagi peserta didik, serta berakhlak mulia. Disebut dengan Kompetensi Kepribadian. 

Untuk itu, Hadi berharap, melalui kegiatan sosial berupa penyantunan anak yatim tersebut dapat lebih memacu semangat anggota IGI Aceh Tamiang dalam meningkatkan profesionalisme dalam mendidik. 

"Sebab, guru harus mampu menjadi panutan yang dapat digugu dan ditiru tidak hanya di kelas, namun juga di masyarakat," ujarnya.

Rubrik:Aceh Tamiang
Hut pijay