Melihat Lebih Dekat Rencong Aceh

Melihat Lebih Dekat Rencong Aceh
(Foto rangkuman Merdeka) Rencong, senjata sakti masyarakat Aceh.

metropolis.id Alkisah, hiduplah seekor burung raksasa sejenis rajawali di daratan Aceh yang disebut Geureuda. Kata Geureuda ini secara fonemis hampir terdengar sama dengan garuda, bahkan kemiripannya pun bisa dilihat dari segi huruf pembentuk kata kendati berbeda dari segi huruf vokal yang digunakan untuk membentuk kata tersebut.

Singkat cerita, keberadaan Geureuda membuat resah penduduk karena burung tersebut suka melahap hewan ternak dan hasil kebun mereka. Penduduk sudah berusaha membunuh Geureuda dengan berbagai macam cara seperti memasang perangkap atau senjata, namun, tidak ada perangkap yang bisa menjeratnya serta tidak ada senjata yang bisa mempan terhadapnya.

Geureuda makin hari makin beringas sampai-sampai penduduk gagal memanen hasil kebun mereka sementara hewan-hewan ternak di tempat itu semakin hari semakin berkurang. Penduduk mulai pasrah karena tidak tahu bagaimana caranya untuk membunuh Geureuda.

Di kemudian hari, istilah Geureuda dialamatkan orang Aceh untuk orang yang bersifat serakah atau congok. Istilah ini masih dipergunakan sampai sekarang di dalam kehidupan sehari-hari.

Sementara itu, tersebutlah seorang pandai besi di ujung negeri tersebut. Oleh raja, dimintalah kepada orang alim itu untuk menempa senjata sakti mandraguna yang dapat membinasakan burung Geureuda.

Pandai besi itu pun menyanggupi tugas dari sang raja. Pandai besi ini diceritakan sebagai orang yang sudah mencapai tingkat makrifat besi yang segera melakukan beberapa syarat sebelum menempa senjata pembunuh Geureuda seperti salat sunah, puasa, serta berdoa.

Kelak senjata tersebut dikenal dengan sebutan rincong atau rencong. Cerita ini merupakan folklor yang ditulis kembali oleh Sri Waryanti dalam penelitiannya yang berjudul Makna Rencong bagi Ureueng Aceh (2013).

Sebagai senjata tradisional, rencong tentu memiliki nilai filosofis dan sosiologis bagi masyarakat Aceh. Senjata yang ukurannya lebih kecil daripada pedang ini juga melambangkan kekuatan, status, serta derajat pemakainya.

Di awal-awal, proses menempa sebilah rencong dilakukan dengan beberapa syarat yang pantang dilanggar agar rencong bertuah. Namun, agaknya prosedur kesakralan itu sudah tidak berlaku lagi saat ini karena rencong sudah jadi benda komersil yang bebas diperjualbelikan di toko suvenir.

Di dalam masyarakat Aceh, rencong kini dipakai dalam pelbagai kegiatan adat masyarakat dan atraksi debus. Rencong juga disimpan sebagai barang warisan turun-temurun.

Dulu, rencong diyakini pantang dicabut dari sarung karena ia akan meminta darah. Pemiliknya juga tidak boleh sembarangan melakukan hal-hal seperti memetik-metikkan ujung rencong di hadapan orang lain jika tidak ingin tertimpa malang.

Rencong memiliki struktur yang cukup unik dan estetis. Selain itu, rencong juga memiliki beberapa jenis yang setiap jenisnya melambangkan strata sosial pemilik rencong tersebut.
 
Bagian dan Jenis Rencong

Caption

Sri (2013), menulis bahwa rencong terdiri dari beberapa bagian yang secara utuh akan tampak seperti tulisan bismillah. Bagian-bagian rencong terdiri dari hulu rencong atau gagang yang di Aceh disebut gô, yang dibuat dari tanduk kerbau, gading gajah, sampai kayu.

Semakin berharga gagangnya, akan semakin tinggi pula nilainya. Gagang yang dibuat dari kayu akan mengurangi kredibelitas pemiliknya.

Bagian selanjutnya adalah ukiran. Ukiran biasanya berada di pangkal gagang rencong yang dibuat dari logam, namun, ukiran ini tidak memiliki syarat tertentu karena bisa dibentuk sesuai keinginan pemiliknya serta hanya bernilai estetika saja.

Bagian yang cukup penting dari rencong adalah ujung, perut, dan pangkal. Ujung rencong dibentuk lancip atau meruncing sementara perut agak membuncit dan ukurannya harus lebih lebar dari ujung dan pangkal.

Ujung rencong berfungsi untuk menusuk, sementara, perut rencong berfungsi untuk membelah atau memotong. Di dalam kondisi seperti perang, perut rencong akan diolesi dengan racun untuk meningkatkan daya bunuh karena rencong berukuran kecil dari senjata tajam lain dan mesti ditusukkan berkali-kali agar lawan cepat tumbang.

Selanjutnya batang rencong. Batang rencong merupakan bentuk utuh dari ujung sampai pangkal yang dihujamkan ke gagang—mirip huruf hijaiah 'ba' dalam struktur pembentuk kalimat bismillah. Sebelum mencapai gagang, ada sebuah bagian yang disebut bengkuang yang bentuknya mirip sekali dengan kuku elang dengan mata yang mengarah ke atas atau berlawan dari gagang agar tidak melukai tangan.

Dari jenisnya, rencong dibedakan menjadi empat macam. Pertama, rencong meucugék/meucunggék yang dilihat dari sisi gagang karena gagangnya tidak lurus namun memiliki siku-siku yang tersambung dan panjang.

Dari sisi fungsi, bentuk cugék berfungsi agar rencong mudah ditarik dari sarung serta mudah terlepas dari dalam genggaman karena genggaman akan tertahan oleh siku-siku (lengkok) tadi sekalipun gagangnya menjadi licin setelah terkena cipratan darah lawan dalam petempuran.

Dari sisi filosofis, nilai-nilai yang terkandung dari gagang meucugék menunjukkan bahwa manusia hanya boleh tunduk kepada Allah, karena jika pemiliknya tunduk kepada manusia, ia akan tertikam oleh rencongnya sendiri sebab, rencong selalu diselipkan di antara lingkar pinggang depan atau pusat.

Kedua, rencong meupucok. Pucok atau pucuk merujuk kepada pucuk gagang rencong tersebut, yang lazimnya berbentuk semakin membesar ke ujung serta dihiasi oleh tembaga logam tambahan terbuat dari perak emas.

Ketiga, rencong pudoi, yaitu rencong yang dianggap tidak sempurna karena gagangnya tidak memiliki siku-siku, hanya berbentuk lurus menggembung ke ujung dan terkesan tidak bernilai estetika. Keempat, rencong meukuréé.

Jenis terakhir dari rencong tersebut dapat disebut sebagai rencong paling langka jika bukan disebut yang terbaik dari jenisnya. Kuréé yang dimaksud adalah ukiran atau gambar di bagian ujung rencong berupa gambar seperti lipan, ular, bunga dan lainnnya, yang memiliki makna masing-masing.

Kuréé diyakini akan muncul dengan sendirinya apabila rencong tersebut bertuah. T. Syamsuddin dan M. Nur Abbas, dalam Reuncong (1981), mengatakan bahwa rencong yang memiliki kuréé atau meukuréé mengandung kekuatan magis.

Rubrik:
Sumber:LIPUTAN6.COM