Ledakan di Beirut, Luapan Amarah dan Ambruknya Kepercayaan Terhadap Pemerintah

Ledakan di Beirut, Luapan Amarah dan Ambruknya Kepercayaan Terhadap Pemerintah
Korban Ledakan di Beirut. ©2020 Anwar AMRO / AFP

METROPOLIS.ID Rakyat Lebanon sudah terbiasa marah kepada pemerintah karena runtuhnya ekonomi, pemadaman listrik berjam-jam dalam sehari, serta kelompok bersenjata yang mendominasi politik negeri.

Peristiwa mengejutkan sekaligus mengerikan selepas ledakan dahsyat dua hari lalu di pelabuhan Beirut menjadi penanda baru ambruknya kepercayaan rakyat terhadap pemerintah. Di tengah krisis ekonomi terparah dalam sejarah Lebanon, ledakan di pelabuhan itu semakin membuat rakyat berada di titik nadir.

Meski penyebab utama ledakan itu belum bisa dipastikan, namun menurut kolumnis the Times of Israel, Aaron Boxerman, sejauh ini bukti yang ada menggambarkan kelalaian pemerintah dan rakyat Lebanon tampaknya setuju dengan premis itu.

Direktur Keamanan Publik Abbas Ibrahim mengatakan 2.750 ton bahan peledak ammonium nitrat memicu ledakan pada Selasa malam lalu. Bahan peledak itu sudah disimpan di pelabuhan sejak 2013.

Penyelidikan Aljazeera menemukan, Direktur Bea Cukai badri Daher sudah berulang kali mengirimkan surat permohonan agar bahan peledak itu dipindahkan. Namun sejauh ini tidak ada tindakan yang dilakukan oleh aparat berwenang.

"Kami tahu bahan peledak itu ada di sana," kata pejabat Bea Cukai Beirut hasam Quraytam, merujuk pada ammonium nitrat sebanyak 2.750 ton itu. "Kami tidak tahu akan seberbahaya ini."

Dewan Keamanan Tinggi (HDC) mengumumkan digelarnya penyelidikan dan masa darurat selama dua pekan. Hasil penyelidikan akan diumumkan dalam lima hari, kata pernyataan HDC.

Presiden Michel Aoun dalam rapat kabinetnya kemarin nyaris tak melepaskan pandangannya dari layar tulisan pidato seraya berjanji pemerintah akan mengungkap kebenaran di balik ledakan ini dan menghukum dengan keras siapa pun yang bertanggung jawab.

Tapi banyak kalangan di media sosial meragukan janji pemerintah soal penyelidikan itu.

"Mereka berjanji akan mencari siapa yang bertanggung jawab. Tanggung jawab? Serius? Kalian masih tetap saja begitu. Kalian yang membuat banyak kegagalan dan menyeret kami. Kalian penjahat!: ujar Henri Chaoul, mantan penasihat keuangan pemerintah yang mengundurkan diri pertengahan Juni lalu dalam akun Twitternya.

Bagi rakyat Lebanon, ledakan di pelabuhan itu kian menggambarkan buruknya reputasi pemerintah. Media lokal sudah sejak lama menulis laporan yang menyebut ada dugaan pelabuhan itu menjadi sumber korupsi pejabat pemerintah yang meraup keuntungan jutaan dolar saban tahun.

Kalangan lain mengatakan kepada MTV Lebanon, bantuan asing seharusnya jangan diserahkan kepada pemerintah karena mereka akan mencuri uangnya.

"Pemerintahan Perdana Menteri Hassan Diab tidak cukup populer bagi rakyat," kata pengamat Lebanon David Daud. Dia menuturkan serangkaian demo sudah terjadi berulang kali sejak pemerintahan ini dibentuk Januari 2020.

Bagi kebanyakan rakyat Lebanon, ledakan dua hari lalu adalah gambaran dari rangkaian kelalaian dan korupsi pemerintah yang menyebabkan krisis terparah dalam sejarah Lebanon.

Gubernur Beirut Marwan Abbud mengatakan ledakan di pelabuhan itu menyebabkan sekitar 300.000 warga kehilangan tempat tinggal. Separuh kota hancur. Dia memperkirakan kerugian mencapai USD 3 miliar.

Selain korban manusia, ledakan itu juga memperburuk masa depan ekonomi. Sebagian besar perekonomian Lebanon terkonsentrasi di Beirut yang kini pelabuhannya hancur. Bagi negara yang mengandalkan betul dari impor maka hancurnya pelabuhan adalah malapetaka.

Rubrik:Global
Sumber:MERDEKA.COM