Kopiah Riman, Souvenir Khas dari Pidie

Kopiah Riman, Souvenir Khas dari Pidie
Kopiah Riman (Foto: INT)

SIGLI, METROPOLIS.id Membahas Kabupaten Pidie Tak melulu soal Emping Melinjo dan aneka kuliner lainnya.

Taukah Anda, daerah yang kini dipimpin oleh Roni Ahmad alias Abusyik itu ternyata juga memiliki souvenir menarik yang dinamakan Kopiah (peci) Riman. Kopiah ini sudah lama populer menjadi oleh-oleh khas Pidie.

Kopiah riman ini sendiri dibuat menggunakan bahan baku serat pohon aren. Meski terlihat sederhana, namun membuat kopiah riman memerlukan keterampilan khusus dan perlu ketelatenan serta kesabaran.

Nah, di Kabupaten Pidie kopiah riman merupakan produksi rumahan yang hanya dapat ditemukan di Gampong Adan, Kecamatan Mutiara Timur, Kabupaten Pidie.

Gampong Adan tak jauh dari pusat Ibukota Pidie. Untuk menuju ke desa itu, Anda hanya harus menempuh perjalanan lebih kurang 15 km dari Kota Sigli.

Di sana, kopiah ini dibuat secara terampil oleh kaum perempuan. Salah satunya adalah Umi Tazmiati.

Wanita 60 tahun itu merupakan salah satu dari puluhan pengrajin yang masi aktif membuat kerajinan ini hingga sekarang.

Saat bincang-bincang dengan metropolis.id, Umi Tazmiati mengatakan, kopiah ini dibuat menggunakan bahan baku serat ijuk yang telah diproses agar awet.

Salah satu pengrajin Kopiah Riman di Gampong Adan, Kecamatan Mutiara Timur, Kabupaten Pidie.(Foto: IST)

Melalui tangan trampil kaum hawa di sana, serat ijuk itu kemudian disulam dengan berbagai motif dan ukuran sehingga menjadi kopiah riman.

Yang membuat beda antara kopiah riman khas Pidie dan daerah lain, kata dia, adalah tekstur dan proses pembuatanya. Proses pewarnaannya dilakukan secara alami, meraka masih menggunakan  tanah liat.

“Serat yang sudah diolah direndam dalam larutan lumpur dan daun pewarna yang sudah ditumbuk, kemudia dicuci dan dijemur. Serat yang sudah kering kemudian digunakan sebagai bahan baku pembuatan kupiah riman ,” katanya.

Untuk pengerjaan sebuah kopiah riman, biasanya memakan waktu 2-3 hari.

Pembuatan kopiah Riman dimulai dari pembuatan benangnya terlebih dulu. Benang-benang dari serat batang pohon aren memerlukan proses waktu paling lama seminggu. Mulai dari pengambilan batang pohon aren yang sudah dipilih, kemudian proses pewarnaan, hingga menjadi gulungan benang (hitam dan kuning emas).

Soal harga, kata dia, dijamin tidak akan menguras kantong Anda. Untuk sebuah kopiah khas Aceh itu, biasanya dijual seharga Rp 150 ribu-hingga Rp 500 ribu, sesuai motif dan ukurannya.

Rubrik:PIDIE