Breaking News

Kerap Culik WNI, Sekuat Apa Kelompok Abu Sayyaf dan Dari Mana Logistik Mereka?

Kerap Culik WNI, Sekuat Apa Kelompok Abu Sayyaf dan Dari Mana Logistik Mereka?
abu sayyaf. ©2016 mindanaoexaminer.com

METROPOLIS.id | Nelayan Indonesia kembali menjadi tawanan kelompok militan berbasis di Filipina Selatan, Abu Sayyaf. Kali ini, kelompok tersebut meminta tebusan Rp 8,2 miliar untuk tiga orang nelayan yang diculik dari perairan Lahad Datu, Malaysia pada September lalu. Tuntutan itu mereka sampaikan lewat video di laman Facebook Sabtu lalu.

Kelompok ini berdiri di awal era 1970-an, awalnya dibentuk dengan nama Front Pembebasan Nasional Moro atau MNLF. Mereka adalah kelompok pemberontak yang ingin melepaskan diri dari Filipina, area kekuasannya berada di Basilan dan Mindanao di selatan Filipina.

Pemimpin pertamanya adalah Abdurajik Abubakar Janjalani yang berprofesi sebagai guru di Basilan. Janjalani kemudian berangkat ke Libya, Suriah dan Arab Saudi untuk mendalami Islam. Dia diketahui ikut terlibat dalam perang melawan Uni Soviet bersama Afghanistan.

Selama berada di sana, dia sempat bertatap muka dengan pemimpin Al Qaidah, Usamah Bin Ladin. Dari Osama, dia menerima bantuan uang senilai USD 6 juta untuk membentuk kelompok militan baru yang juga bagian dari MNLF. Lahirlah Abu Sayyaf.

Kelompok Abu Sayyaf ini memiliki ideologi keras. Demi mendapatkan keinginannya, mereka tak segan menculik bahkan membunuh sandera. Sasaran utamanya adalah warga Filipina dan Amerika Serikat, termasuk Indonesia, Jepang serta Malaysia tak luput jadi korban penculikan.

Awal 2000-an, Abu Sayyaf menarik perhatian karena sejumlah aksi pengeboman, pembunuhan, penculikan, dan serangan. Kelompok ini memperbarui tujuannya pada Juni 2017 yaitu membangun negara Islam, ketika berhasil menguasai Marawi. Kelompok ini pun disebut kelompok paling berbahaya di Filipina, sebagaimana dilansir dari laman Pusat Keamanan dan Kerjasama Internasional (CISAC) Universitas Stanford, Jumat (22/11).


Dukungan dana Al Qaidah

Al Qaidah mendukung Abu Sayyaf dengan pendanaan dan pelatihan; tambahan dari Mohammad Jamal Khalifa, pengusaha sukses Arab Saudi dan ipar Usama bin Ladin, juga mendukung pendanaan kelompok ini. Pada tahun 1991 dan 1992, anggota Al Qaidah, Ramzi Yousef, pendukung utama pengeboman WTC tahun 1993, berkunjung ke Filipina beberapa kali dan pada 1994 diduga menyiapkan pelatihan milisi Abu Sayyaf.

Setelah pasukan polisi membunuh Janjalani tahun 1998, Abu Sayyaf terpecah jadi dua faksi. Khadaffy Janjalani, saudara Abdurajik Abubakar Janjalani, memimpin salah satu faksi, sementara komandan Galib Andang memimpin yang lainnya. Perpecahan juga beriringan dengan kehilangan aliran bantuan dari Al Qaidah, membuat kelompok ini mengubah aksi penyerangan pengeboman dengan penculikan. Tujuannya adalah demi mendapatkan uang tebusan untuk membiayai keberlangsungan kelompoknya.

Tahun 2000, serangan pertama dilakukan dengan penculikan 21 orang di sebuah resor di Malaysia.

Sumber logistik

Di masa lalu Kelompok Abu Sayyaf menerima uang atau pelatihan dari kelompok militan lain, termasuk Al Qaidah dan Jamaah Islamiyah. Kini sumber pendanaan utama Abu Sayyaf berasal dari aktivitas kriminal setelah pendanaan dari sumber asing berkurang sejak 1990-an.

Abu Sayyaf dikenal dengan aksi penculikan, meminta uang tebusan dari keluarga-keluarga kaya dan pemerintah negara Barat, bisa sampai beberapa miliar dolar sekali meminta uang tebusan. Tak hanya itu Abu Sayyaf juga memperoleh uang lewat pemerasan, penyelundupan, dan menjual ganja.

Selain untuk membayar para anggotanya, Abu Sayyaf memakai uang itu untuk membeli senjatra dan peralatan komunikasi. Pada 2005 militer Filipina memperkirakan Abu SAyyaf mempunya 480 senjata, ditambah peralatan dengan kemampuan melihat di waktu malam, pendeteksi panas, kapal cepat, dan banyak lagi.

Abu Sayyaf juga dilaporkan membeli senjata dari militer Filipina yang berarti ada pejabat militer yang korup. Abu Sayyaf juga diduga memperoleh senjata dari Organisasi Infante, kelompok pemasok senjata dan narkoba AS-Filipina yang pemimpinnya ditangkap pada 2003. Selain itu juga Abu Sayyaf mendapat senjata dari Viktor Bout, penyelundup senjata internasional yang juga memasok senjata ke Al Qaidah dan Hizbullah sebelum ditangkap pada 2008.

Kelompok kriminal

Pascaperistiwa 9/11, Abu Sayyaf menjadi target serangan pasukan AS dan pasukan bersenjata Filipina (AFP). Tahun 2002, AS mengerahkan 1.650 pasukannya ke Filipina. Galib Andang ditangkap pada 2003 dan setelah itu, kelompok yang sempat terpecah ini kembali membangun konsolidasi dan melakukan sejumlah serangan mematikan awal tahun 2000.

Khadaffy Janjalani terbunuh tahun 2006. Abu Sayyaf kehilangan kepemimpinan dan kembali melakukan penculikan pada 2007.

Dalam menjalankan aksinya demi uang tebusan, kelompok ini kerap mengancam akan memenggal kepala sanderanya jika tebusan tak dibayar. Kebanyakan korban penculikan adalah warga Filipina, walaupun Abu Sayyaf juga menargetkan warga asing yang berada di Filipina Selatan, termasuk wisatawan dan pekerja asing.

Penculikan ini lebih bertujuan untuk keuntungan finansial semata daripada tujuan politis. Karena aktivitasnya melakukan penculikan demi uang tebusan ini, beberapa pakar dan pejabat menyebut Abu Sayyaf sebagai kelompok kriminal dibandingkan organisasi ideologi.

Berafiliasi dengan ISIS?

Pada 23 Juli 2014, Isnilon Hapilon, pemimpin Abu Sayyaf dan sejumlah pria muncul dalam sebuah video di YouTube berbaiat ke ISIS dan pimpinannya, Abu Bakar Al-Baghdadi. Pada September 2014, kelompok ini menyandera dua warga Jerman, meminta tebusan dari pemerintah Jerman dan menarik dukungannya mendukung AS menyerang ISIS.

Para pakar dan pejabat, termasuk Letnan Jenderal Rustico Guerrero dari Angkatan Darat Filipina meyakini dukungan Abu Sayyaf ke ISIS hanya untuk kepentingannya sendiri. Kelompok ini awalnya hanya meminta tebusan kepada Jerman dan pada Oktober 2014, kedua sandera dibebaskan dan tebusan telah dibayar. Dan kebijakan Jerman terhadap serangan AS ke ISIS tak berubah. ISIS juga tak terlihat memberikan dukungan dana atau materil ke Abu Sayyaf.

Namun sekitar 2016, ISIS mengatakan bertanggung jawab atas serangan Abu Sayyaf di Filipina dan menyerukan pengikutnya berjuang di Filipina. Menyusul baiatnya ke ISIS, taktik kelompok ini tetap melakukan penculikan demi tebusan dan menyerang warga sipil.

Rubrik:
Sumber:MERDEKA.COM