Jika Membebani Wali Murid, YARA Pidie Desak Kegiatan 'Tot Apam' di Sekolah Dihentikan

Jika Membebani Wali Murid, YARA Pidie Desak Kegiatan 'Tot Apam' di Sekolah Dihentikan
Perwakilan YARA Pidie, Junaidi SH.

SIGLI, metropolis.id Upaya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pidie yang memerintahkan sekolah-sekolah untuk Tot Apam secara serentak, Selasa (23/2/2021) besok, dinilai sangat merugikan wali siswa.

"Ada laporan, pihak sekolah meminta semua kebutuhan bahan baku untuk Tot Apam kepada wali siswa. Sehingga membuat orang tua murid keberatan dan mengeluh," Kata Junaidi, Perwakilan Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA) Kabupaten Pidie kepada metropolis.id, Senin (22/2/2021).

Menurutnya, Tot Apam memang merupakan adat dan budaya masyarakat Pidie. Namun, jika ingin melaksanakan hal itu, jangan sampai membebani wali siswa.

"Kondisi pandemi Covid-19 ini sudah sangat menyulitkan ekonomi mereka, jangan menambah beban lagi. Menurut saya, ini ide gila pemerintah," ucap Junaidi.

Lanjutnya, pemerintah jangan mengadakan program yang aneh-aneh. Sebab, semua itu berdampak pada kekecewaan wali siswa.

"Seharusnya setiap sekolah menyediakan biaya sendiri dan mengundang wali siswa untuk ikut kenduri, bukan malah membebani mereka. Tolong hentikan kegiatan seperti ini jika memang tidak ada dana," ujar Junaidi.

"Pemerintah urus saja hewan ternak (lembu) yang masih berkeliaran dalam Kota Sigli, sebab persoalan ini belum sanggup mereka atasi," sambungnya.

Ia mengungkapkan, banyak hal lain yang harus diselesaikan oleh pemerintah setempat, bukan mengurusi masalah sepele.

"Saya setuju dengan kegiatan yang membangkitkan adat dan budaya Tot Apam kepada masyarakat. Namun, jangan sampai membebani wali siswa," pungkasnya.

Menanggapi hal itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pidie, Ridwandi kepada metropolis.id mengatakan, kegiatan tersebut tidak dipungut biaya sama sekali. Namun, jika ada sekolah yang meminta bantuan kebutuhan untuk Tot Apam, mungkin hanya beberapa sekolah saja.

"Bisa jadi, sekolah tersebut memang sama sekali tidak memiliki dana. Kita tidak ada perintah untuk meminta bahan baku kepada wali siswa," tegasnya.

Menurut Kadis, Tot Apam itu dilaksanakan di semua sekolah untuk membangkitkan budaya Endatu. Sehingga, sejak usia kanak-kanak mereka sudah mengenal budaya sendiri.

"Kelak saat dewasa, mereka tahu adat dan budaya Tot Apam ini," tutupnya.

Rubrik:PIDIE