Breaking News

Divonis Mati, Kurir 41 Kg Sabu Asal Aceh Besar Ajukan Banding

Divonis Mati, Kurir 41 Kg Sabu Asal Aceh Besar Ajukan Banding
Suasana persidangan kasus narkoba di PN Kelas IA Tanjungkarang. Lampost.co/Salda Andala

METROPOLIS.id Muntasir (37) warga Gampong Meunasah Mayang, Kecamatan Ingin Jaya, Kabupaten Aceh Besar, divonis hukuman mati oleh Majelis Hakim dalam persidangan virtual dengan agenda pembacaan putusan vonis yang digelar di Pengadilan Negeri Kelas 1A Tanjungkarang, Kamis, 6 Agustus 2020.

Ketua Majelis Hakim Aslan Ainin menyatakan terhadap Muntasir bersalah kedapatan membawa sabu seberat 41 kg.

"Sesuai Pasal 114 Ayat (2) juncto Pasal 132 Ayat (1) Undang-Undang RI Nomor: 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika, menjatuhkan pidana mati terhadap terdakwa Muntasir," ujarnya.

Sementara itu, Deswandi, penasehat hukum terdakwa Muntasir mengatakan akan mengajukan banding terdahap putusan Majelis Hakim yang menilai hukuman yang dijatuhkan kepada kliennya terlalu berat.

"Kami mencoba upaya hukum lainnya karena duduk perkara ini klien kami juga korban dari pemilik barang itu. Semoga bisa diberikan kesempatan untuk memperbaiki dan bisa menjadi manusia yang berbakti kepada negara. Ditambah dia menyesalinya," kata dia.

Sebelumnya, Ulah Jepri Susandi warga Tangerang Banten yang menjadi bandar narkoba kelas kakap yang meresahkan masyarakat Lampung kini terhenti. Jepri akan tiga kali menjalani persidangan, dari dua perkara yang berbeda.

Awalnya, Jepri Susandi (41) yang menyamarkan hartanya sebagai juragan angkot, dan juga selaku pemilik sabu seberat 7,259 kg ditangkap BNNP Lampung pada 12 Agustus 2019 lalu usai salat di sekitar kediamannya.

Penangkapan Jepri berawal dari tertangkapnya dua kuris asal Aceh Zawil Qiram, dan Silman, serta penerima sabu milik Jefri, warga Bandar Lampung yakni Ade.

Dari tangan Jefri pun disita barang bukti seperti mobil, perhiasan, buku tabungan, ponsel, hingga surat tanah yang nominalnya mencapai Rp1,9 miliar. Semuanya merupakan hasil tindak pidana pencucian uang, dari menjual sabu.

Belakangan, setelah dikembangkan total barang bukti perkara tersebut sebanyak 13 kg, dan Jefry pun divonis 17 tahun penjara, di PN tanjungkarang, pada senin 20 Januari 2020 yang lalu.

Ketika ditahan di Rutan Kelas IA Bandar Lampung atau rutan Way Hui, Jefri pun kembali berulah dengan mengendalikan peredaran sabu seberat 41,6 kg.

Perkara tersebut pun diungkap kembali oleh BNNP Lampung, pada 4 desember 2019, ia mengendalilan barang haram tersebut bersama beberapa orang yang saat itu menjadi tahanan di Rutan Kelas IA Bandar Lampung yaknj Hatamimi, dan Supriyadi, sementara kurir Bernama Ifran Usman, Meregang Nyawa karena ditembak opsnal BNNP saat hendak ditangkap.

Pada perkara peredaran sabu 41,6 kg tersebut, Jefri dan pelaku lainnya masih menjalani persidangan tuntutan.

Belum mendapatkan vonis atas perbuatannya mengedarkan sabu sebnayak 41.6 kg dari balik jeruji besi, pengusaha Supir angkot pun akan kembali menjalani sidang ketiganya.

Rubrik:Hukum
Sumber:Lampost.co