Cemburu Itu Berbeda dengan Iri Hati

Cemburu Itu Berbeda dengan Iri Hati
Imam Muda Firdaus (Alumni Dayah Al Mubarakah Al Aziziyah Matang Kuli, Aceh Utara).

MANUSIA adalah makhluk sempurna yang diciptakan oleh Allah SWT dengan berbagai kelebihan, yaitu akal dan hati.

Akal digunakan untuk berpikir dan berkembang, sedangkan hati fungsinya untuk merasakan dan menjaga akhlak seseorang.

Dalam Islam, hati seseorang menjadi penentu akhlaknya. Apabila seseorang memiliki hati yang baik, maka akhlaknya juga pasti baik. Dan sebaliknya, apabila seseorang memiliki hati yang buruk, maka akhlaknya pun pasti akan buruk.

“Ketahuilah, di dalam tubuh manusia ada segumpal daging. Jika segumpal daging itu baik, baiklah seluruh tubuh, dan jika daging itu rusak, rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah olehmu, itu segumpal daging itu adalah qalbu (hati) ”(HR Bukhari)

Cemburu dan iri hati sepintas terlihat sama, banyak masyarakat yang berangapan bahwa cemburu dan iri hati itu sama padahal kedua sifat tersebut sangatlah jauh berbeda.

Cemburu adalah perasaan yang timbul dari hati karna keinginan akan sesuatu yang dimiliki orang lain dan berusaha bercita-cita agar memiliki seperti apa yang dimiliki oleh orang lain tersebut.

Sedangkan iri hati adalah perasaan yang muncul karena keinginan akan sesuatu yang dimiliki atau diperlihatkan oleh orang lain rasa sakit pun muncul menyertai hal tersebut sehinga ia pun berusaha dan bercita-cita agar sesuatu kelebihan yang dimiliki oleh orang lain tersebut hancur rusak dan hilang.

Iri hati adalah penyakit yang berbahaya, yang harus dimusnahkan. Dalam perspektif Islam, penyakit hati sering diidentikkan dengan beberapa sifat buruk atau tingkah laku tercela (akhlaq mazmumah) seperti dengki, iri hati, arogan, emosional dan seterusnya.

Sebab kesan dari iri hati tersebut menimbulkan bermacam jenis hal dan penyakit, diantaranya kepribadiannya terganggu dan menyebabkan kurang mampu menyesuaikan diri dengan wajar dan tidak sanggup memahami problemnya sendiri.

Seringkali orang yang iri hati ini tidak dapat merasakan bahwa dirinya sakit, sebaliknya ia menganggap dirinya normal bahkan lebih baik lebih unggul dan lebih penting dari yang lain. Hingga kesan iri hatinya tersebut menggrogoti jiwanya yang membuat dirinya tertekan dan stres sampai tertutup kelebihan yang ada pada dirinya sendiri sehingga dirinya jauh dari bersyukur kepada Allah SWT.

Seperti Abu Hurairah Ra., Ia berkata, Rasulullah Shallallah’ Alaihi Wa Sallam bersabda : “Jagalah dirimu dari hasad, karena sesungguhnya hasad merusak kebaikan, sebagaimana api yang memakan kayu bakar.” (HR. Abu Daud)

Berpikiran positif melihat orang sukses seharusnya dapat dijadikan cambuk diri untuk memacu diri bekerja lebih keras dan lebih smart agar dapat mengejar ketinggalan dan menyusul dengan kesuksesan demi kesuksesa. Namun yang terjadi justru kebanyakan melihat orang sukses atau kaya timbul niat tidak baik untuk menguasai kekayaan orang lain dengan menghalalkan segala cara.

Allah telah melarang hambanya untuk iri kepada sesamanya dalam hal kemewahan dan kenikmatan dunia yang hanya sesaat, karena segala yang Allah berikan telah sesuai dengan usaha masing-masing hambanya di dunia ini.

Wallahua'alam.

Penulis: Imam Muda Firdaus, Alumni Dayah Al Mubarakah Al Aziziyah Matang Kuli, Aceh Utara

Rubrik:
PT SBA