Breaking News

Budaya di Tanah Sang Sufi

Budaya di Tanah Sang Sufi

Oleh : Farida Solin

(Pengamat Sosial dan Budaya)

Pembangunan Budaya dan kehidupan sosial masyarakat terus terus berkembang terlebih pada era pembangunan Provinsi Aceh yang bersyariah  beberapa dekade ini.

Kota Subulussalam adalah salah satu pusat pemerintahan Kotamadya di provinsi Aceh merupakan daerah pintu gerbang antara provinsi Sumatera Utara dan Provinsi Aceh

Hampir dua dekade ini pembangunannya terlihat signifikan dalam kemajuan. Kota yang ditelurkan dari kabupaten induk yakni aceh Singkil 2007 yang lalu itu merupakan kota cikalbakal gambaran dari hasil pencapaian cita - cita sejauh mana penegakan syariat Islam di provinsi Aceh itu terrealisasikan menjadi satu dalam kehidupan sosial beragama dan bermasyarakat.

Tidak sedikit anggaran pemerintah Aceh melalui  program pembangunan sumberdaya aqidah dan pembangunan lainya, diantaranya Dinas Syariat Islam dalam hal pendorong kegiatan bagaimana menjadikan negeri Aceh sebagai Provinsi yang bersyariat secara menyeluruh, diantaranya melalui pendekatan serta menempatkan para Da’i dan membangun lembaga  pendidikan agama Islam  disetiap perbatasan yang mesti di dukung dan diapresiasi serta wajib dipertahankan .

Subulussalam Tanoh Singkil adalah negeri bertuah, negeri yang dikenal dengan lahirnya karya ulama sufi Syekh Hamzah Fansuri. Dengan karya intelektualitas menuangkan pemikiran sufi dalam karya sastranya, merupakan dimensi  dakwah yang berhasil menjadikan Aceh sebagai pusat berkebangnya peradapan tasauf nusantara,melayu dan AsiaTenggara.

Globalisasi pembangunan Aceh khususnya mulai merubah pandangan penerus terutama generasi generasi muda,yang dahulunya  pondasi syariah sangat melekat  dalam setiap asfek kehidupan budaya dan social.

Secara umum masyarakat Aceh kini berhadapan dengan tantangan yang beragam, dengan masuknya pengaruh budaya - budaya yang terkadang tidak sesuai dengan syariah, menjadikan perjuangan dalam pembangunan masyarakat yang berbudaya akan tersendat lambat dari kemajuanya mencapai Negeri yang bersyariah. Bilamana  diabaikan akan memupus cita cita Pembangunan yaitu mencapai Cita Negeri Bersyariah secara kaffah di provinsi Aceh

Dari latar belakang pengaruh globalisasi dalam pembangunan di atas, maka penulis mencoba mengemukakan, betapa pentingnya pihak Pemerintah Aceh untuk lebih memperkuat benteng Aqidah dalam kebudayaan masyarakat. Mecegah pengaruh budaya-budaya  luar yang secara perlahan akan  mengikis nilai nilai syariah yang dicita –citakan dalam  kehidupan masyarakat terutama di wilayah daerah perbatasan.

Kota Subulussalam yang dikenal negerinya Hamzah Fansyuri ulama para sufi merupakan icon tanah leluhur yang wajib dijaga. Hal ini menuntut adanya segera pendekatan tertentu secara lebih baik seringnya sosialisasi dalam pendekatan fikih budaya di tengah masyaraka, fiqih kebudayaan dan juga tentunya menjadi tak kalah penting jika dikemas secara baik. Menjadikan Kota Subulussalam sebagai Kota Santri yang telah dicanangkan oleh Pemerintah setempat patut diapresiasi dan didukung untuk segera terwujudkan. Sehingga dengan upaya itu mampu mempertahnkan indentitas leluhur dari sebuah  icon daerah Kota Subulussalam yang sesungguhnya adalah Negerinya sang Ulama Sufi Hamzah fansyuri.

Polemik  yang mengemuka akhir-akhir ini di masyarakat Kota Subulussalam dihadapkan dengan isu adanya wacana menjadikan Kota Subulussalam  salah satu pusat kebudayaan dari salah satu etnis yang kita ketahui merupakan kebudayaan dari daerah Sumatera Utara. Wacana tersebut didukung oleh eksekutif dan legislatifnya.

Semoga polemik tersebut tidak harus membuat persatuan dan kesatuan  masyarakat terpecah-pecah, karena harus kita pahami bahwa Islam pada prinsipnya hadir tidak untuk menghapus tradisi yang sudah hidup di masyarakat sepanjang tidak menyalah syariah.

Kita tentunya berharap pembangunan Aceh lebih kepada mengisi nilai syariah, dan Rakyat Aceh umumnya berharap Pemerintah Aceh agar Lebih  konsen dalam pembangunan provinsi yang bersyariah juga menjadikan gerbang Provinsi Aceh itu salah satu Kota yang selalu mempertahankan ajaran ajaran  Sang Ulama sufinya.

Sebaga Kota Santri dan Kota yang memiliki Budaya Bersyariah dan tanpa mengabaikan pembangunan pembangunan kebudayaan etnis tertentu yang sekiranya tidak akan mengurangi nilai nila Syariah itu sendiri. Tentu menjadi pekerjaan rumah bagi semua pihak bagaimana menciptakan pembangunan syariat islam  tanpa harus mediskreditkan budaya etnis yang lain sehingga tidak menimbulkan mata api perpecahan dimasyarakat .maka oleh karena itu salah satu langkah yang mesti segera dilakukan adanya kajian khusus dan pendekatan sosial  bagaimana agar  pembangunan Aceh bisa selaras tanpa berselisih dengan sebuah kebudayaan Aslinya yakni Budaya bersyariah.

Rubrik:
Sumber:Farida Solin (Pengamat Sosial dan Budaya)