Asal Mula Penemuan Butiran Emas di Sungai Lawe Alas Hingga Buat Heboh Warga Agara

Asal Mula Penemuan Butiran Emas di Sungai Lawe Alas Hingga Buat Heboh Warga Agara

KUTACANE, Metropolis.id Penemuan butiran emas di Sungai Lawe Alas Desa Darul Makmur, Kecamatan Darul Hasanah, menjadi topik hangat dan membuat heboh warga di Aceh Tenggara (Agara).

Ratusan warga di sana berbondong-bondong mencari butiran emas di pinggir sungai tersebut, tepatnya di jembatan rangka baja Desa Lawe Penanggalan.

Aktivitas warga mendulang emas di sungai tersebut telah berlangsung sejak dua bulan terakhir.

Penelusuran metropolis.id, butiran emas di pinggir sungai tersebut awalnya ditemukan oleh warga asal Pekan Baru, Provinsi Riau. 

Warga Darul Makmur sekaligus pendulang, Muhammaddin mengatakan, penemu pertama butiran emas di bantaran sungai Lawe Alas adalah warga Pekan Baru yang berasal dari suku Padang. 

"Ada 7 orang dari Pekan Baru yang pertama mendulang emas di sini," katanya, Minggu (10/1/2021). 

Mereka sempat dua pekan mendulang emas di bantaran sungai tersebut dengan cara tradisional, tetapi terpaksa pulang karena tidak sanggup memenuhi kesepakatan dengan pemerintah desa setempat. 

“Pemerintah Desa meminta uang senilai Rp 2 juta untuk kelanjutan dulang emas tersebut, tetapi mereka hanya bersedia membayar berkisar Rp 700 ribu, sehingga kesepakatan dua belah pihak gagal,” katanya. 

Cara pendulang ini, kata dia, hasil dari peninggalan mereka, ramah lingkungan dan tidak menggunakan mesin-mesin tertentu yang dapat merusak ekosistem sungai Lawe Alas. 

“Sekarang warga pendulang meningkatkan teknisinya dengan memakai mesin dompeng penyedot air. Dan itu juga tidak merusak ekosistem Lawe Alas,” tambahnya.

Terkait penghasilan, menurut dia, para pendulang mendapatkan mulai  Rp30 ribu sampai Rp400 ribu per hari.

“Itu tergantung rezeki dari yang pendulang. Ada warga pendulang berjumlah 6 orang yang memakai mesin penyedot air, hanya bisa menghasilkan 2 mayam selama sepuluh hari,” katanya. 

Di lokasi terpisah, Do'om Akbar, salah satu pendulang warga desa setempat, mengatakan bermacam-macam cara warga mencari butiran emas di bantaran sungai tersebut. 

“Ada cara manual, hanya memakai ayak pendulang, ada juga memakai rakitan dari kayu yang diberi lapisan ambal sejenis kesek pengelap kaki dan disiram pakai mesin sedotan air. Sebahagian pendulang, mencari bongkahan batu yang ada berwarna keemasan,” katanya

Rubrik:Aceh Tenggara
Iklan bireuen